Pages

Sabtu, 17 Mei 2014

Lelaki Itu

      Mentari pagi ini bersinar cerah, anak-anak kecil dengan wajah sumringah sudah siap berbaris di lapangan bersiap masuk kelas. Ya begitulah suasana PAUD tempat ku mengajar. 
"bu guruu.......rifan dirong-dorong aku", kiki merengek karna di ganggu temannya. 
"hmmm......ayo, kok pada bercanda aja, jadi berantakan terus kan'" kataku lembut sambil tersenyum.
Setelah berbaris, seperti biasanya anak-anak dan semua guru bernyanyi bersama dengan ceria. Saat tengah berkonsentrasi dengan tugas ku tiba-tiba dari gerbang sekolah datang sesosok pria bertubuh tak terlalu tinggi sebetulnya, standar untuk ukuran tinggi orang Asia. Tubuhnya yang kekar, dada bidang dan kulit sawo matang. Pria itu memakai kemeja kotak-kotak coklat lengan  panjang, bagian lengan digulung sampai hampir ke siku. Tas ransel coklat dan sepatu model tentara yang selalu jadi ciri khasnya. Tapi yang membuat ku tiba-tiba mematung adalah senyumnya..........senyum yang telah begitu lama ku rindukan. 
      "hey, Ti....kok malah bengong. Anak-anak waktunya masuk kelas tuh," tepukan halus dian dibahuku membuyarkan lamunanku. Kulihat anak-anak telah berhamburan berebut masuk kelas. Sebelum aku beranjak mengikuti anak-anak itu, kembali ku tatap pria di sebrang ku, dia berjalan menuju ruang kepala sekolah setelah sebelumnya melemparkan senyum yang membuat jantungku kembali melonjak-lonjak tak terkendali. Ia menghilang dibalik pintu ruang kepsek. Dengan perasaan masih tak karuan aku memasuki ruang kelas.
         Bayangan lelaki itu terus mengganggu pikiranku, sehingga membuat mood mengajarku berantakan. baru saja tak sengaja kutumpahkan cat poster yang sedang digunakan Amel mewarnai gambarnya. 
"gu guluuuu.....ikh, catnya tumpah ke buku Amel.......", anak perempuan cantik bermata sipit itu berdiri dari kursinya sambil menepuk tanganku.
"akh......ehhh, maaf ya Amel. Ibu ga sengaja." aku menatap amel yang agak cemberut dengan perasaan bersalah, ya....gara-gara melamun aku tak sengaja menyenggol botol cat yang ada di hadapanku.
  "sini ibu bantu bersihkan, nah buku gambarnya ibu ganti yang baru ya," kataku berusaha selembut mungkin. Setelah merayu habis-habisan, akhirnya Amel tak marah lagi padaku. Akupun melanjutkan tugasku hingga bel istirahat berbunyi. Anak-anak dengan tak sabar berebut keluar dari ruang kelas.
   Aku baru saja berniat melangkahkan kaki menuju ruang guru, ketika Dian tiba-tiba saja sudah menjejeri langkahku. "Ti, kita ke mushala dulu aja yuk, lagi ada penyuluhan tentang pemberdayaan orang tua murid di sana", katanya bersemangat.
"kamu aja deh Di, aku lagi ga semangat nih......"
"kenapa, kamu sakit?........
aku menggeleng.
"terus kenapa? eh, padahal pematerinya ganteng loh. namanya kang Didi apa Dudi gitu, dia dari Bandung", langkahku terhenti.
"Dudi Priyadi?".........kataku setengah berbisik, kulihat Dian mengangguk pasti.
"yuk....kita liat...." tanpa meminta persetujuanku lagi Dian menarik tanganku dan menyeret ku menuju mushala dibelakang kelas A1. 
    Ternyata benar, lelaki itu. Lelaki yang telah membuatku rindu dan gelisah selama 3 tahun belakangan ini. Lelaki yang mengisi sebaigian besar memori dalam hidup ku. Lelaki yang pernah begitu aku cintai dulu, bahkan sampai hari ini. Ah.......dia lelaki hujan ku. 
       Lelaki itu duduk didekat tempat imam, dia tampak begitu percaya diri, semua yang dikatakannya telah menghipnotis semua orantua dan guru yang hadir diruangan itu, termasuk aku. Materi penyuluhannya memang sangat bermanfaat, tapi aku tak begitu memperhatikan. PAndangan dan pikiranku hanya terfokus pada si pembicara. Aku yang duduk di bagian belakang bisa dengan leluasa memandangi wajah yang begitu ku rindukan selama ini. Sesekali kami bersirobok pandang saat ia mengedarkan pandangan ke seluruh hadirin, dan setiap itu terjadi....maka jantungku seperti akan melompat dari tempatnya. Aku berusaha bersikap wajar. Tapi gagal, aku sadar.....saat itu aku tampak salah tingkah dan mungkin terlihat konyol.
      Bel tanda berakhirnya jam istirahat kembali berbunyi, aku bergegas menuju kelasku. Yang ku inginkan saat ini adalah menyelesaikan tugasku hari ini dan aku ingin menghampiri lelaki itu, hanya sekedar menyapa, semoga bisa meghapuskan seluruh kerinduanku. Seperti hujan yang turun di padang pasir.
       "ucapkan salam......." Ikhsan yang memimpin doa memberi aba-aba. "assalamualaiku warah matullah hi wabarrakatu......" serempak mereka mengucapkan salam lalu bergantian keluar keas. Setelah semua murid pulang, buru-buru kurapikan ruang kelas dan semua buku-bukuku. Bergegas aku berjlan menuju ruang guru lalu meletakkan buku dan arsipku di meja kerjaku dan berlari lagi kearah mushala. Mushala sekolah sudah tampak lengang, hanya tinggal kepala sekolah, lelaki itu dan beberapa orang yang tampak masih bercakap-cakap serius. Aku menunggu lelaki itu di depan pintu keluar, dada ku berdegup begitu kencang. 
     Kulihat lelaki itu mulai beranjak dari tempatnya, setelah berpamitan lelaki itu berjalan menuju pintu keluar. Saaat lelaki itu berdiri di hadapang ku, dia menghentikan langkahnya. menoleh ke arah ku. Aku tersenyum ,"kang.....kang Dudi, apa kabar?"
Lelaki itu bergeming, dia menatapku tajam hingga rasanya menohok jantungku yang tengah bergejolak.membuatnya beku seketika, menjalar ke seluruh tubuh dan lidahku yang tiba-tiba kelu mendapat tatapan sedingin itu. Tak ada seulas senyumpun dibibirnya, tak ada kehangatan seperti yang dulu sering ku dapatkan setiap kali ia menatapku penuh kasih.
   Hanya sekian detik lelaki itu menatapku, tetapi rasanya waktu terhenti selama seabad. Ketika akhirnya lelaki itu memalingkan wajahnya seraya berkata ," kabar saya baik. apa kabar mu bu Tisha ?" tetap dengan ekspresi dinginnya. Membuatku semakin salah tingkah.
  "a..aa..ku juga baik. mmm, bo..boleh aku minta waktunya sebentar?"
Lelaki itu tak menjawab,  ia melangkah menjauhiku tanpa berkata sepatah katapun lagi.
Aku berusaha menghentikannya, aku berteriak memanggil namanya, tak ku pedulikan tatapan herah orang-orang disekitar ku. Aku berlari kecil mengejar langkah lelaki itu, 'Aku mohon jangan pergi lagi...." jeritku dalam hati. 
    Didepan gerbang sekolah lelaki itu berhenti, aku pun berhenti. Kuatur nafasku yang tersengal-sengal. Sunyi menyergap, dedaunan bergoyang tertiup angin yang bertiup perlahan, mempermainkan ujung jilab ungu muda yang kukenakan.
    " Ada keperluan apa lagi bu?" tanyanya nyaris tak terdengar, ia masih tak mau menoleh kearah ku. "Tuhan..........apa salahku, sampai ia begitu membenciku seperti ini." jerit hatiku.
"a, aku mau bicara. sebetulnya apa salah ku sampai aa bersikap seperti ini padaku?' tak terasa air mataku menetes. Dia bergeming.
 "aa, tolong jawab. Sejak e-mail terakhir aa hampir 3 tahun lalu, aa tiba-tiba menghilang tanpa kabar" kata-kataku terhenti, tangisanku makin menjadi. 
  "aku masih sendiri a, aku tak jadi menikah dulu. Dan selama ini aku terus mencarimu, seperti janji kita dulu." kataku terbata-bata di sela isakanku.
  Ia masih juga terdiam, ku lihat matanya juga mulai berkaca-kaca, menahan tangis. Ada luka yang tersirat tapi kebencian yang sejak tadi terlukis dimatanya seolah perlahan memudar. Tapi ia tetap diam. 
   "aa......tolong jawab. bicaralah a. Aku sangat rindu padamu......"
   "terlambat Tisha........"
   "apa maksud aa terlambat ? jangan bilang................"
   "ya tisha, semuanya sudah terlambat. aku................." kata-katanya terhenti. Ia menatap mataku dalam-dalam. Diusapnya air mata yang makin membanjiri wajahku. Dia menggenggam kedua tangan ku. Senyap sesaat, angin bersentuhan dengan dedaunan, menciptakan melodi yang begitu sendu yang hanya dapat dipahami oleh hati-hati yang tengah rindu.
  "maafkan aku tisha, dulu aku kira, kau jadi menikah dengan lelaki pilihan orang tuamu," ia kembali terdiam. Air mata mulai menetes pula di kedua mata teduhnya yang begitu aku suka.
  " jadi......setelah e-mail terakhir yang ku kirimkan pada mu, aku putuskan aku akan berhenti menghubungi mu dan melupakanmu." kata-katanya membuatku tercekat, aku sudah bisa menebak arah pembicaraannya. Air mata makin deras mengalir di mataku.
  "Aku sudah menikah Sha, dengan perempuan pilihan orang tuaku. dan aku......aku mencintai istriku...." katanya pelan tapi rasanya seperti belati yang menohok langsung ke jantungku. Ia melepaskan gengamannya.
 Aku kehilangan kemampuanku berbicara, tubuhku terasa lemas seperti tanpa tulang. Terakhir yang kuingat, aku lihat lelaki itu berjalan menjauh, kemudian punggunya hilang di tengah hujan. Dan seketika semuanya gelaapppppppppppppp...........

Kamis, 15 Mei 2014

awal perjumpaan

Pagi itu, tak seperti biasanya saat jarum jam baru menunjukan pukul 05.45 WIB, aku sudah berjejalan dengan para calon penumpang lain di stasiun padalarang. Tujuanku, stasiun bandung di lanjung menggunakan angkot jurusan Dago. Pagi itu, matahari bersinar cerah walau masih tampak malu-malu. Udarapun terasa amat sejuk. Di jam seperti itu, stasiun memang sudah dipadati calon penumpang, ada pegawai kantoran, anak sekolah, mahasiwa, pedagang dan lain sebagainya.
Ya, pagi ini memang tak seperti biasanya aku sudah harus menunggu kedatangan kereta yang nantinyya akan mengantarkan ku ke stasiun Bandung. Tujuanku hari ini adalah gedung Dekranasda Jabar, hari ini akan di adakan work shop kewirausahaan. Awalnya ku pikir tak lolos seleksi, tapi semalam di detik-detik terakhir hp ku berbunyi, suara di sebrang sana mengatakan bahwa aku lolos seleksi dan bisa mengikuti seminar yang akan di adakan selama 2 hari itu, dan di sinilah aku.
Harapanku mengikuti pelatihan itu adalah, bahwa setelah pelatihan aku bisa merubah banyak hal dalam hidup ku, terutama usaha kecil-kecilan yang baru saja aku rintis ini. Tanpa aku sadarri, sesuatu di sana sedang menunggu dan akan membuat perubahan besar dalam hidupku. Aku tak tahu, apakah keputusanku untuk hadir di sana benar atau tidak, tapi nyatanya takdir membawa langkahku sampai di tempat itu.
Pukul 07.55 wib, sesaat sebelum pintu ruangan di tutup akhirnya aku sampai juga di bagia registrasi ulang. Setelah melakukan registrasi ulang, kulangkahkan kakiku menuju pintu ruangan, Pagi ini aku mengenakan dress lengan panjang warna putih motif bunga2 hitam kecil, kerudung hitam di balut jaket warna abu-abu, dengan percaya diri penuh kulongokan kepala dan menyisir seisi ruangan, mencari tempat duduk yang masih kosong. Setelah ku temukan, kulangkahkan kaki menuju sebrang ruangan.
Hari itu berlalu tanpa ada kejadian berarti, ku simak seluruh materi yang disampaikan karena memang itu tujuanku datang ke sini. Tapi di hari kedua, ku akui......ada sesuatu yang mencuri hatiku. Sebuah senyum, senyum dari salah satu peserta seminar, pria tentunya. tapi kuanggap angin lalu dan ku tepis rasa yang tiba-tiba mengetuk pintu hatiku yang sepi. Kubiarkan hari itu berlalu seperti hari sebelumnya.
2 hari berlalu sejak hari terakhir pelatihan,hari itu hari minggu. Rencananya hari itu aku akan menemui seorang teman lamaku. Saat tengah bersiap-siap, tiba2 Hp ku berbunyi, sebuah no baru muncul di layar hp ku. "hallo......", sapa ku ramah. "ya hallo, dengan bu Sisi? jawab suara pria di sebrang sana.
" ya betul, dengan siapa ini?"
" Saya Didi, kita ketemu dipelatihan dekranasda kemarin,"
"oh ya, yang mana ya, sebentar...." kataku sambil berusaha mengingat satu persatu wajah yang kuingat saat acara tersebut, tanganku juga berusaha meraih lembaran kertas diatas meja yng berisi daftar peserta acara, ketika akhirnya ku temukan namanya dibarisan nama peserta dalam waktu yang bersamaan pula kutemukan memori tentang pemilik nama itu. Ya....dia adalah si pemilik senyum yang membuat dadaku bergemuruh sesaat saat ia melemparkan senyumnya padaku di acara kemarin. Tanpa kusadari, dada ku kembali bergemuruh.
percakapan berlangsung cukup lama, yang akhirnya berujung pada janji bertemu siang ini untuk membicarakan kemungkinan kami bisa memulai bisnis bersama.
Inilah awal perubahan besar dalam hidup ku......................................

(to be continued)

Kamis, 12 September 2013

Oriflame Cosmetics


Oriflame Cosmetics


Ktalog terbarunya oriflame.......mmm, banyak banget produk skin care yang bagus banget lagi discount bulan ini...........^^

Selasa, 10 September 2013

aku dan bisnis baruku

Menjadi ibu dari 2 orang anak itu sangat menyenangkan. Walau kadang lelah dengan semua pekerjaan rumah yang menumpuk, anak-anak yang kadang super aktif, tapi jika dinikmati.......ada kebahagiaan yang tak kan pernah tergantikan dengan apapun juga. Ya, saat kebersamaan dengan buah hati, memantauu perkembangan mereka dari hari kehari adalah satu anugrah yang tak ternilai hargany. Maka dari itu, sejak kelahiran putri kedua ku.....aku memutuskan untuk berhenti mangajar dan ingin manghabiskan lbih banyak waktu bersama kedua buah hatiku. Tapi, hanya berdiam diri saja di rumahkadang juga terasa jenuh. Cari aktivitas yang bisa menghasilkan, tapi tetap bisa bersama anak-anak.......awalnya mau coba berbisnis, tapi yang sudah2 pun harus keluar modal besar dan keuntunganpun belum pasti. Sampai suatu hari Allah mempertemukan aku dengan bisnis ini. Bisnis yang penghasilannya bisa dibilang keren, tapi bisa di jalani dari rumah dan tetap punya waktu untuk keluarga. Selain itu, aku bersyukur juga karna bisa bergabung dengan Oriflame ini via d'BCN dan berada di team ku sekarang. Karna jujur, team ku ini solid n asik banget. So, walaupenghasilan ku sekarang masih kecil, tapi banyak yang udah berhasil dapetin penghasilan jutaan lewat bisnis ku ini, nah......KALO MEREKA AJA BISA, AKU JUGA PASTI BISA SUKSES di bisnis ini......aamiin.

Rabu, 09 Mei 2012

BELAJAR DARI MERPATI

Merpati putih, burung cantik yang seringkali dipakai sebagai lambang cinta sejati. Tapi selain cantik, merpati juga punya sifat yang dapat menjadi pembelajaran bagi kita. Perhatikanlah...........!
  • Merpati adalah burung yang setia dan tak pernah mendua hati. Coba perhatikan, apa ada merpati yang suka bergonta ganti pasangan? jawabannya adalah "TIDAK"! merpati hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Itulah sebabnya merpati dijadikan lambang cinta sejati.
  • Merpati adalah burung yang tak pernah tersesat, ia tahu kemana ia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh,  ia akan tetap kembali kesarangnya tanpa tersesat.
  • Merpati adalah burung yang romantis, perhatikanlah.....saat sang jantan bertalu-talu memuji kecantikan sang betina, si betina akan tertunduk malu-malu. Mereka tak pernah saling memaki.
  • Burung merpati juga tahu pentingnya bekerjasama, lihat saja......mereka selalu bekerja sama saat membuat sarang, sang jantan dan betina silih berganti membawa ranting untuk membangun sarang mereka. Dan saat sang betina mengerami telur-telurnya, sang jantan dengan setia menunggu dilluar sarang. Dan apabila sibetina kelelahan, maka sang jantan bergantian mengerami telur-telurnya.
  • Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, makanya ia tak pernah menyimpan "kepahitan" dalam dirinya sehingga ia tak pernah pula menyimpan "dendam" dihatinya.
Betapa indah kehidupan sepasang merpati.........
Jika seekor burung merpati saja dapat melakukan hal-hal diatas, mengapa kita sebagai manusia tidak dapat melakukannya?
Hidup itu indah jika kita dapat saling mengerti, berbagi dan menghargai pasangan kita dan juga pada sesama manusia yang lainnya.........

Jumat, 12 Agustus 2011

mulai bergerak.......mewujudkan semua impian yang sempat tertunda ...........^_^

Sabtu, 18 Juni 2011

Hidup itu adalah rangkaian cerita, kadang manis....tapi tak jarang terasa pahit. Begitu banyak cerita bahagia dan cinta, tapi kadang terselip cerita duka.Begitu banyak dari kita yang mengeluh saat kita terluka........tapi kita lupa untuk bersyukur saat kita bahagia. Tak jarang kita menghujat Tuhan saat kita diuji dengan nestapa, tapi lupa untuk bersyukur atas nikmat-Nya, saat ujian itu datang dalam rupa bahagia.

Sebegitu sering kita tertawa, tapi akan terlupa saat kita merasa terluka. Saat kita merasa tak berdaya, kita akan selalu berusaha mendekat pada-nya, luruh dalm tangis di balut do'a penuh harap akan segera datang pertolongan-Nya. lalu........apa yang terjadi saat pertolongan-Nya datang? Masih ingatkan kita untuk bersyukur dan semakin mendekat pada-Nya, merenungi smua nikmat yang telah dianugrahkan Allah???? Ternnyata tidak, saat kita bahagia, begitu sering kita melupakan-Nya. Ada apa sebenarnya dengan diri kita???????????? Sebuah pertanyaan besar yang harus segera kita tanyakan pada hati nurani kita. Apa hanya disaat terluka kita mendekat pada-Nya dan menjauh setelah bahagia datang menyapa????

Sahabat, marilah kita bersama untuk selalu saling mengingatkan untuk selalu mengingat dan mendekat pada-Nya. Mari kita bersama, saling bahu membahu meraih dan memaknai cinta hakiqi yang hanya pada sang maha pencipta Allah. SWT.