Mentari pagi ini bersinar cerah, anak-anak kecil dengan wajah sumringah sudah siap berbaris di lapangan bersiap masuk kelas. Ya begitulah suasana PAUD tempat ku mengajar.
"bu guruu.......rifan dirong-dorong aku", kiki merengek karna di ganggu temannya.
"hmmm......ayo, kok pada bercanda aja, jadi berantakan terus kan'" kataku lembut sambil tersenyum.
Setelah berbaris, seperti biasanya anak-anak dan semua guru bernyanyi bersama dengan ceria. Saat tengah berkonsentrasi dengan tugas ku tiba-tiba dari gerbang sekolah datang sesosok pria bertubuh tak terlalu tinggi sebetulnya, standar untuk ukuran tinggi orang Asia. Tubuhnya yang kekar, dada bidang dan kulit sawo matang. Pria itu memakai kemeja kotak-kotak coklat lengan panjang, bagian lengan digulung sampai hampir ke siku. Tas ransel coklat dan sepatu model tentara yang selalu jadi ciri khasnya. Tapi yang membuat ku tiba-tiba mematung adalah senyumnya..........senyum yang telah begitu lama ku rindukan.
"hey, Ti....kok malah bengong. Anak-anak waktunya masuk kelas tuh," tepukan halus dian dibahuku membuyarkan lamunanku. Kulihat anak-anak telah berhamburan berebut masuk kelas. Sebelum aku beranjak mengikuti anak-anak itu, kembali ku tatap pria di sebrang ku, dia berjalan menuju ruang kepala sekolah setelah sebelumnya melemparkan senyum yang membuat jantungku kembali melonjak-lonjak tak terkendali. Ia menghilang dibalik pintu ruang kepsek. Dengan perasaan masih tak karuan aku memasuki ruang kelas.
Bayangan lelaki itu terus mengganggu pikiranku, sehingga membuat mood mengajarku berantakan. baru saja tak sengaja kutumpahkan cat poster yang sedang digunakan Amel mewarnai gambarnya.
"gu guluuuu.....ikh, catnya tumpah ke buku Amel.......", anak perempuan cantik bermata sipit itu berdiri dari kursinya sambil menepuk tanganku.
"akh......ehhh, maaf ya Amel. Ibu ga sengaja." aku menatap amel yang agak cemberut dengan perasaan bersalah, ya....gara-gara melamun aku tak sengaja menyenggol botol cat yang ada di hadapanku.
"sini ibu bantu bersihkan, nah buku gambarnya ibu ganti yang baru ya," kataku berusaha selembut mungkin. Setelah merayu habis-habisan, akhirnya Amel tak marah lagi padaku. Akupun melanjutkan tugasku hingga bel istirahat berbunyi. Anak-anak dengan tak sabar berebut keluar dari ruang kelas.
Aku baru saja berniat melangkahkan kaki menuju ruang guru, ketika Dian tiba-tiba saja sudah menjejeri langkahku. "Ti, kita ke mushala dulu aja yuk, lagi ada penyuluhan tentang pemberdayaan orang tua murid di sana", katanya bersemangat.
"kamu aja deh Di, aku lagi ga semangat nih......"
"kenapa, kamu sakit?........
aku menggeleng.
"terus kenapa? eh, padahal pematerinya ganteng loh. namanya kang Didi apa Dudi gitu, dia dari Bandung", langkahku terhenti.
"Dudi Priyadi?".........kataku setengah berbisik, kulihat Dian mengangguk pasti.
"yuk....kita liat...." tanpa meminta persetujuanku lagi Dian menarik tanganku dan menyeret ku menuju mushala dibelakang kelas A1.
Ternyata benar, lelaki itu. Lelaki yang telah membuatku rindu dan gelisah selama 3 tahun belakangan ini. Lelaki yang mengisi sebaigian besar memori dalam hidup ku. Lelaki yang pernah begitu aku cintai dulu, bahkan sampai hari ini. Ah.......dia lelaki hujan ku.
Lelaki itu duduk didekat tempat imam, dia tampak begitu percaya diri, semua yang dikatakannya telah menghipnotis semua orantua dan guru yang hadir diruangan itu, termasuk aku. Materi penyuluhannya memang sangat bermanfaat, tapi aku tak begitu memperhatikan. PAndangan dan pikiranku hanya terfokus pada si pembicara. Aku yang duduk di bagian belakang bisa dengan leluasa memandangi wajah yang begitu ku rindukan selama ini. Sesekali kami bersirobok pandang saat ia mengedarkan pandangan ke seluruh hadirin, dan setiap itu terjadi....maka jantungku seperti akan melompat dari tempatnya. Aku berusaha bersikap wajar. Tapi gagal, aku sadar.....saat itu aku tampak salah tingkah dan mungkin terlihat konyol.
Bel tanda berakhirnya jam istirahat kembali berbunyi, aku bergegas menuju kelasku. Yang ku inginkan saat ini adalah menyelesaikan tugasku hari ini dan aku ingin menghampiri lelaki itu, hanya sekedar menyapa, semoga bisa meghapuskan seluruh kerinduanku. Seperti hujan yang turun di padang pasir.
"ucapkan salam......." Ikhsan yang memimpin doa memberi aba-aba. "assalamualaiku warah matullah hi wabarrakatu......" serempak mereka mengucapkan salam lalu bergantian keluar keas. Setelah semua murid pulang, buru-buru kurapikan ruang kelas dan semua buku-bukuku. Bergegas aku berjlan menuju ruang guru lalu meletakkan buku dan arsipku di meja kerjaku dan berlari lagi kearah mushala. Mushala sekolah sudah tampak lengang, hanya tinggal kepala sekolah, lelaki itu dan beberapa orang yang tampak masih bercakap-cakap serius. Aku menunggu lelaki itu di depan pintu keluar, dada ku berdegup begitu kencang.
Kulihat lelaki itu mulai beranjak dari tempatnya, setelah berpamitan lelaki itu berjalan menuju pintu keluar. Saaat lelaki itu berdiri di hadapang ku, dia menghentikan langkahnya. menoleh ke arah ku. Aku tersenyum ,"kang.....kang Dudi, apa kabar?"
Lelaki itu bergeming, dia menatapku tajam hingga rasanya menohok jantungku yang tengah bergejolak.membuatnya beku seketika, menjalar ke seluruh tubuh dan lidahku yang tiba-tiba kelu mendapat tatapan sedingin itu. Tak ada seulas senyumpun dibibirnya, tak ada kehangatan seperti yang dulu sering ku dapatkan setiap kali ia menatapku penuh kasih.
Hanya sekian detik lelaki itu menatapku, tetapi rasanya waktu terhenti selama seabad. Ketika akhirnya lelaki itu memalingkan wajahnya seraya berkata ," kabar saya baik. apa kabar mu bu Tisha ?" tetap dengan ekspresi dinginnya. Membuatku semakin salah tingkah.
"a..aa..ku juga baik. mmm, bo..boleh aku minta waktunya sebentar?"
Lelaki itu tak menjawab, ia melangkah menjauhiku tanpa berkata sepatah katapun lagi.
Aku berusaha menghentikannya, aku berteriak memanggil namanya, tak ku pedulikan tatapan herah orang-orang disekitar ku. Aku berlari kecil mengejar langkah lelaki itu, 'Aku mohon jangan pergi lagi...." jeritku dalam hati.
Didepan gerbang sekolah lelaki itu berhenti, aku pun berhenti. Kuatur nafasku yang tersengal-sengal. Sunyi menyergap, dedaunan bergoyang tertiup angin yang bertiup perlahan, mempermainkan ujung jilab ungu muda yang kukenakan.
" Ada keperluan apa lagi bu?" tanyanya nyaris tak terdengar, ia masih tak mau menoleh kearah ku. "Tuhan..........apa salahku, sampai ia begitu membenciku seperti ini." jerit hatiku.
"a, aku mau bicara. sebetulnya apa salah ku sampai aa bersikap seperti ini padaku?' tak terasa air mataku menetes. Dia bergeming.
"aa, tolong jawab. Sejak e-mail terakhir aa hampir 3 tahun lalu, aa tiba-tiba menghilang tanpa kabar" kata-kataku terhenti, tangisanku makin menjadi.
"aku masih sendiri a, aku tak jadi menikah dulu. Dan selama ini aku terus mencarimu, seperti janji kita dulu." kataku terbata-bata di sela isakanku.
Ia masih juga terdiam, ku lihat matanya juga mulai berkaca-kaca, menahan tangis. Ada luka yang tersirat tapi kebencian yang sejak tadi terlukis dimatanya seolah perlahan memudar. Tapi ia tetap diam.
"aa......tolong jawab. bicaralah a. Aku sangat rindu padamu......"
"terlambat Tisha........"
"apa maksud aa terlambat ? jangan bilang................"
"ya tisha, semuanya sudah terlambat. aku................." kata-katanya terhenti. Ia menatap mataku dalam-dalam. Diusapnya air mata yang makin membanjiri wajahku. Dia menggenggam kedua tangan ku. Senyap sesaat, angin bersentuhan dengan dedaunan, menciptakan melodi yang begitu sendu yang hanya dapat dipahami oleh hati-hati yang tengah rindu.
"maafkan aku tisha, dulu aku kira, kau jadi menikah dengan lelaki pilihan orang tuamu," ia kembali terdiam. Air mata mulai menetes pula di kedua mata teduhnya yang begitu aku suka.
" jadi......setelah e-mail terakhir yang ku kirimkan pada mu, aku putuskan aku akan berhenti menghubungi mu dan melupakanmu." kata-katanya membuatku tercekat, aku sudah bisa menebak arah pembicaraannya. Air mata makin deras mengalir di mataku.
"Aku sudah menikah Sha, dengan perempuan pilihan orang tuaku. dan aku......aku mencintai istriku...." katanya pelan tapi rasanya seperti belati yang menohok langsung ke jantungku. Ia melepaskan gengamannya.
Aku kehilangan kemampuanku berbicara, tubuhku terasa lemas seperti tanpa tulang. Terakhir yang kuingat, aku lihat lelaki itu berjalan menjauh, kemudian punggunya hilang di tengah hujan. Dan seketika semuanya gelaapppppppppppppp...........
